........sugeng rawuh sedoyo mawon.....^^

.....sugeng rawuh sedoyo mawon.....^^

Minggu, 20 Maret 2011


Anak Tidak dapat Membaca Belum Tentu Bodoh
Seperti yang sudah diutarakan di atas, disleksia perkembangan disebabkan oleh kelainan genetik. Berbagai gen sudah ditemukan merupakan penyebab disleksia. Seseorang dengan disleksia biasanya juga memiliki saudara jauh yang menderita disleksia pula. Penelitian pada saudara kembar juga membuktikan hal serupa. Pada anak disleksia, gen yang mengatur perkembangan otak mengalami gangguan. Akibatnya otak tidak berkembang pada jalur yang seharusnya. Gangguan perkembangan tersebut hanya terjadi pada daerah otak yang berhubungan dengan bahasa khususnya jalur membaca (jalur yang menghubungkan antara pusat penglihatan dengan pusat bahasa). Namun, walau perkembangan di pusat bahasa terhambat, ternyata otak membuat kompensasi dengan perkembangan pada pusat lainnya. Tidak heran, anak dengan disleksia dapat memiliki kemampuan rata-rata atau bahkan di atas rata-rata. Tidak heran pula bila anak tidak dapat membaca namun memiliki bakat di bidang lainnya.

Mengenali disleksia dapat dibilang susah-susah gampang. Disleksia sering tidak dikenali karena orang tua sudah menganggap bahwa anak mereka bodoh. Seperti sudah dibahas sebelumnya
, kurang mampu membaca belum tentu berarti anak bodoh, orang tua harus dapat melihat kemampuan umum anaknya. Kesulitan lain adalah karena terkadang disleksia disertai kelainan lain seperti kesulitan konsentrasi, ceroboh, kesulitan mengingat angka dan sebagainya. Oleh karena itu, orang tua harus segera membawa anaknya ke ahli perkembangan anak (dalam hal ini bisa seorang dokter atau psikolog). Biasanya perkembangan anak secara umum akan dinilai. Bila perkembangan umum anak normal atau lebih dari rata-rata, anak tersebut mungkin saja menderita disleksia. Karena disleksia sering menyebabkan depresi dan trauma terhadap pendidikan/sekolah, dukungan dari orang tua atau guru memegang peranan yang sangat penting. Selain mendukung anak belajar membaca, bakat anak harus segera dikenali dan dikembangkan sehingga kepercayaan diri anak tidak hilang. Biasanya kepecayaan diri anak akan hilang bila dukungan tidak diberikan sampai anak berusia 8 tahun. Selain itu, anak juga dapat dibawa ke dokter yang ahli dalam perkembangan anak, dalam hal ini dokter rehabilitasi medik (Sp.RM) atau dokter anak (Sp.A). Biasanya anak akan diterapi dengan metode multisensoris. Anak juga akan diterapi untuk meningkatkan kemampuan persepsi visual dan auditorinya.


Mengajarkan Anak Disleksia
Bayangkan Anda sedang berada di Cina atau Arab. Bayangkan Anda berada di tempat umum yang semua petunjuknya ditulis dengan tulisan Cina atau Arab. Apakah Anda mengerti? Ataukah Anda bingung? Atau malah Anda beranggapan bahwa semua itu hanyalah sebuah tulisan-tulisan keriting yang tidak ada maknanya?
Begitulah kira-kira keadaan anak yang menderita gangguan belajar spesifik disleksia. Mereka terjebak dalam dunia yang penuh dengan tulisan-tulisan yang tidak dimengerti. Istilah disleksia mengacu pada gangguan membaca yang dimiliki oleh seseorang, seperti kesulitan membaca, memahami bacaan, kesulitan membedakan huruf yang mirip seperti b, d, q, p, v, u, n, dan lainnya. Berbeda dengan slow learner, anak yang didiagnosis disleksia harus memiliki IQ rata-rata atau di atas rata-rata.
Jika anak Anda dalam tahap belum bisa membedakan mana huruf-huruf yang mirip seperti b dan d, maka cara pengajaran yang perlu dilakukan adalah mempelajari hurufnya satu persatu. Misalnya fokuskan pengajaran kali ini pada huruf b. Tulislah huruf b dalam ukuran yang besar kemudian mintalah anak untuk mengucapkan sembari tangannya mengikuti alur huruf b atau membuat kode tertentu oleh tangan. Latihlah dan perkuatlah terus menerus sampai ia bisa menguasainya, setelah itu mulailah beranjak ke huruf d.

Terdapat dua cara untuk mengajarkan anak membaca kata-kata: melihat dan mendengar kata tersebut satu persatu. Buatlah kata yang dicetak dalam ukuran besar – misalnya ‘buku’, setelah itu kita ucapkan ‘buku’, lalu mintalah anak mengulangi apa yang kita ucapkan yaitu ‘buku’. Tunjukanlah kata tersebut terus menerus, tambahkanlah beberapa kata yang sudah ia ketahui, hingga ia mengenali dan dapat mengucapkannya langsung begitu ia melihat kata ‘buku’.
Ada beberapa anak  yang sudah bisa membaca namun ia memiliki masalah dengan pemahaman

Menangani Anak dengan Berkebutuhan khusus

Tidak semua anak akan tumbuh dan berkembang dengan proses dan keadaan yang sama. Ada beberapa anak yang memiliki kebutuhan-kebutuhan tertentu yang harus dipenuhi supaya mereka bisa tumbuh dan berkembang seperti anak-anak lainnya. Misalnya, anak yang memiliki kelemahan fisik, bermasalah dengan penglihatan, pendengaran, dan anggota tubuh lainnya, maupun anak yang mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Dalam kasus yang seperti ini, orang tua harus memiliki kepekaan dalam mengenali kebutuhan yang diperlukan oleh anak.
Diperlukan kesabaran dan ketekunan dalam merawat anak yang memiliki kebutuhan khusus. Di samping itu, orang tua pun harus memiliki bekal pengetahuan, keterampilan, dan cara-cara tertentu dalam merawat mereka supaya apa yang mereka butuhkan bisa terpenuhi. Untuk itu, beberapa artikel dan tanya jawab dalam Fokus C3I kali ini kiranya bisa menambah bekal Sahabat C3I, khususnya dalam menangani anak yang berkebutuhan khusus. Selamat menyimak, semoga menjadi berkat!